Malam Menjelang Lengsernya Soeharto, Ini yang Terjadi di Astana Gede Kawali
Ada beberapa momentum bersejarah yang terjadi menjelang Presiden RI Jenderal HM Soeharto “lengser keprabon” mundur dari jabatannya sebagai Presiden pada 21 Mei 1998. Salah satu momen yang masih sangat diingat adalah demo berdarah yang menewaskan banyak mahasiswa.
Indonesia dalam keadaan genting. Setiap aktivitas dan gerakan–gerakan sekecil apapun yang dilakukan warga dan komunitas saat itu dalam pengawasan ketat aparat (ABRI).
Bagi budayawan dan seniman Ciamis, ketegangan yang terjadi di Ibu Kota Negara saat itu malah menjadi inspirasi untuk menggelar kegiatan ruwatan budaya di Situs Astana Gede yang berada di hutan seluas 5 hektar di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Ruatan budaya itu dinamai Nyiar Lumar.

Budayawan Ciamis Godi Suwarna yang menggagas Nyiar Lumar mengatakan, pada saat ketegangan Ibu Kota Negera menular ke mana-mana dan dirasakan seluruh warga negara, perlu ada kegiatan yang dapat meregangkan, yang dapat menyejukan, merelaksasi dan menenangkan.
Pada tanggal 20 Mei 1998 digelarlah perhelatan budaya Nyiar Lumar di alam lepas Situs Astana Gede Kawali. Kegiatan tersebut diisi oleh penampilan beragam jenis kesenian dan ruwatan di batu prasasti pangenteungan.
Kegiatan Nyiar Lumar kata Godi awalnya hanya untuk komunitas terbatas pelaku kebudayaan dan kesenian saja. Namun kemudian ada juga kelompok lain yang merespon positif kegiatan tersebut dan turut hadir, termasuk warga di Kecamatan Kawali.
“Awalnya hanya dari kita untuk kita saja. Tapi saat itu banyak yang datang, termasuk teman-teman dari luar daerah, respon masyarakat juga bagus, astana gede menjadi penuh,” kata Godi sehari menjelang Nyiar Lumar 9, di Padepokan Paseban Jagat Palaka Kawali, Jumat (18/11/2016).
Banyaknya pengunjung pada Nyiar Lumar pertama tahun 1998 diluar estimasi. Godi Suwarna dan Penanggungjawab Kegiatan Dadang Q Mos pun galau. Apalagi malam harinya pada salah satu pos penampilan, ada beberapa pengunjung yang berteriak “Gantung Soeharto..!!”.
“Mungkin ada yang baru pulang demo jadi masih terbawa tegangnya, ada yang teriak gantung Soeaharto!. Wah, kacau saya. Takut dibubarkan acaranya karena saya tahu banyak intel. Ya saya nyumput (sembunyi) saja dulu menjauh dari pos itu, menenangkan diri dulu, sambil memikirkan antisipasi kalau terjadi sesuatu, kalau-kalau ada pembubaran acara dan penangkapan,” papar Godi.
Pembubaran paksa acara oleh aparat yang ditakutkan Godi Suwarna dan Dadang Q Mos saat itu tidak terjadi. Acara berlangsung sampai pukul 11.00 WIB malam sesuai izin yang diberikan pihak berwenang. Walaupun acara selesai namun kekhawatiran masih menghantui Godi Suwarna dan panitia. Godi khawatir ada penangkapan terhadap pelaku budaya atau peserta pada saat pulang atau di rumahnya.
“Dari pada ditewakan hiji hiji mendingan ditewakna babarengan, (daripada ditangkap satu-satu lebih baik bersama-sama), Akhirnya kami sepakat kumpul ngariung di Astana Gede sampai menjelang pagi,” aku Godi.
Pada saat kumpul di Astana Gede setelah Nyiar Lumar selesai, selain berbincang-bincang, tentu ada doa agar pada saat pulang tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang ditangkap aparat. Pagi harinya pada tanggal 21 Mei 1988, panitia Nyiar Lumar dan beberapa budayawan yang bertahan semalam suntuk mulai keluar dari hutan Situs Astana Gede.
“Saat pulang, beberapa jarak dari Astana Gede ada warung, di sana kami melihat Pak Harto sedang membacakan pidato pengunduran dirinya di TV. Nah…baru kami bisa tenang,” kata Godi.
Perjalanan awal itulah yang menurut Godi menjadi semangat dan titik awal untuk menjadikan Nyiar Lumar agenda rutin dua tahunan. Selain sebagai acara pelepas rindu budayawan, seniman. Secara umum Nyiar Lumar kegiatan yang sarat makna dan bernilai sejarah. Nyiar Lumar kegiatan budaya yang menjujung nilai-nilai sejarah kedaerahan sebagai bagian dari sejarah bangsa dan nusantara.
Nyiar Lumar dua tahunan bukan untuk memanjangkan dendam. Tetapi bagian dari pengenalan sejarah Galuh, sejarah Kasundaan. “Di Astana Gede ini dipendam abu jenazah Prabu Linggabuana, dan semua yang gugur di Perang Bubat. Di sini ada kisah tentang Citra Resmi, Wastu Kencana, dan jejak-jejak kisah lainnya dari Kerajaan Sunda,” ujar Godi.
Nyiar Lumar kini kembali digelar untuk yang ke 9 kalinya. Panitia yang dikomandani Dadang Q Mos sibuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pada Sabtu (19/11/2016). Kegiatan pembuka dilakukan di Kecamatan Kawali lalu dialnjutkan helaran berjalan kaki menuju Astana Gede. Di Astana Gede itulah beberapa acara dan penampilan kesenian digelar. Seperti Tutunggulan, Tari Buka Lawang, Tawasulan, Ruwatan Prasasti, Simpe Karinding, Ritual Bumi, Ronggeng Gunung dan lainnya.
Sumber: Fokus Jabar
Indonesia dalam keadaan genting. Setiap aktivitas dan gerakan–gerakan sekecil apapun yang dilakukan warga dan komunitas saat itu dalam pengawasan ketat aparat (ABRI).
Bagi budayawan dan seniman Ciamis, ketegangan yang terjadi di Ibu Kota Negara saat itu malah menjadi inspirasi untuk menggelar kegiatan ruwatan budaya di Situs Astana Gede yang berada di hutan seluas 5 hektar di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Ruatan budaya itu dinamai Nyiar Lumar.
Budayawan Ciamis Godi Suwarna yang menggagas Nyiar Lumar mengatakan, pada saat ketegangan Ibu Kota Negera menular ke mana-mana dan dirasakan seluruh warga negara, perlu ada kegiatan yang dapat meregangkan, yang dapat menyejukan, merelaksasi dan menenangkan.
Pada tanggal 20 Mei 1998 digelarlah perhelatan budaya Nyiar Lumar di alam lepas Situs Astana Gede Kawali. Kegiatan tersebut diisi oleh penampilan beragam jenis kesenian dan ruwatan di batu prasasti pangenteungan.
Kegiatan Nyiar Lumar kata Godi awalnya hanya untuk komunitas terbatas pelaku kebudayaan dan kesenian saja. Namun kemudian ada juga kelompok lain yang merespon positif kegiatan tersebut dan turut hadir, termasuk warga di Kecamatan Kawali.
“Awalnya hanya dari kita untuk kita saja. Tapi saat itu banyak yang datang, termasuk teman-teman dari luar daerah, respon masyarakat juga bagus, astana gede menjadi penuh,” kata Godi sehari menjelang Nyiar Lumar 9, di Padepokan Paseban Jagat Palaka Kawali, Jumat (18/11/2016).
Banyaknya pengunjung pada Nyiar Lumar pertama tahun 1998 diluar estimasi. Godi Suwarna dan Penanggungjawab Kegiatan Dadang Q Mos pun galau. Apalagi malam harinya pada salah satu pos penampilan, ada beberapa pengunjung yang berteriak “Gantung Soeharto..!!”.
“Mungkin ada yang baru pulang demo jadi masih terbawa tegangnya, ada yang teriak gantung Soeaharto!. Wah, kacau saya. Takut dibubarkan acaranya karena saya tahu banyak intel. Ya saya nyumput (sembunyi) saja dulu menjauh dari pos itu, menenangkan diri dulu, sambil memikirkan antisipasi kalau terjadi sesuatu, kalau-kalau ada pembubaran acara dan penangkapan,” papar Godi.
Pembubaran paksa acara oleh aparat yang ditakutkan Godi Suwarna dan Dadang Q Mos saat itu tidak terjadi. Acara berlangsung sampai pukul 11.00 WIB malam sesuai izin yang diberikan pihak berwenang. Walaupun acara selesai namun kekhawatiran masih menghantui Godi Suwarna dan panitia. Godi khawatir ada penangkapan terhadap pelaku budaya atau peserta pada saat pulang atau di rumahnya.
“Dari pada ditewakan hiji hiji mendingan ditewakna babarengan, (daripada ditangkap satu-satu lebih baik bersama-sama), Akhirnya kami sepakat kumpul ngariung di Astana Gede sampai menjelang pagi,” aku Godi.
Pada saat kumpul di Astana Gede setelah Nyiar Lumar selesai, selain berbincang-bincang, tentu ada doa agar pada saat pulang tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang ditangkap aparat. Pagi harinya pada tanggal 21 Mei 1988, panitia Nyiar Lumar dan beberapa budayawan yang bertahan semalam suntuk mulai keluar dari hutan Situs Astana Gede.
“Saat pulang, beberapa jarak dari Astana Gede ada warung, di sana kami melihat Pak Harto sedang membacakan pidato pengunduran dirinya di TV. Nah…baru kami bisa tenang,” kata Godi.
Perjalanan awal itulah yang menurut Godi menjadi semangat dan titik awal untuk menjadikan Nyiar Lumar agenda rutin dua tahunan. Selain sebagai acara pelepas rindu budayawan, seniman. Secara umum Nyiar Lumar kegiatan yang sarat makna dan bernilai sejarah. Nyiar Lumar kegiatan budaya yang menjujung nilai-nilai sejarah kedaerahan sebagai bagian dari sejarah bangsa dan nusantara.
Nyiar Lumar dua tahunan bukan untuk memanjangkan dendam. Tetapi bagian dari pengenalan sejarah Galuh, sejarah Kasundaan. “Di Astana Gede ini dipendam abu jenazah Prabu Linggabuana, dan semua yang gugur di Perang Bubat. Di sini ada kisah tentang Citra Resmi, Wastu Kencana, dan jejak-jejak kisah lainnya dari Kerajaan Sunda,” ujar Godi.
Nyiar Lumar kini kembali digelar untuk yang ke 9 kalinya. Panitia yang dikomandani Dadang Q Mos sibuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pada Sabtu (19/11/2016). Kegiatan pembuka dilakukan di Kecamatan Kawali lalu dialnjutkan helaran berjalan kaki menuju Astana Gede. Di Astana Gede itulah beberapa acara dan penampilan kesenian digelar. Seperti Tutunggulan, Tari Buka Lawang, Tawasulan, Ruwatan Prasasti, Simpe Karinding, Ritual Bumi, Ronggeng Gunung dan lainnya.
Sumber: Fokus Jabar
Post a Comment