Tentang Persiapan Nyiar Lumar 2018
1. Dasar Pemikiran
Ada secercah harapan yang tetap hidup di hati kami. Bahwa seni warisan nenek moyang dan seni Sunda terkini berhak hidup dan berkembang, dihargai semestinya oleh masyarakat luas, di tengah zaman yang serba seperti ini. Sekian lama kami tergoda, memikirkan bagaimana cara setepat-tepatnya untuk menggapai hal itu.
Jawabannya adalah: semua mesti dikembalikan kepada alam, demikian gagasan yang terlintas dalam pikiran kami. Seni tradisi yang alamiah akan bernapas dan berdenyut ditengah-tengah alamnya. Apabila dicabut dari alam lingkungannya, seni tradisi selalu cenderung kehilangan nuansa dan makna. Seni Sunda terkini mesti berpijak pada tradisi dan alam, agar keberadaannya memiliki pondasi yang lebih kokoh untuk kelangsungan perkembangannya. Demikian pula manusianya, pencipta dan penikmatnya, yang kadung terkurung di zaman yang serba jauh dari alam, akan merasa nyaman berada di lingkungan yang mungkin telah lama terlupakan
Untuk gagasan itulah maka kami tela mencoba menggelar tradisi dan seni Sunda terkini dengan berlatarkan alam. Pada suatu malam, 20 Mei 1998, di situs Surawisesa (Astana Gede) Kawali, hadirin kami ajak bertualang ke dunia bihari yang masih ngancik di kiwari, dengan hidangan berbagai jenis seni Sunda di tengah-tengah alamnya. Kala itu, hadirin yang terdiri dari berbagai kalangan, baik seniman maupun masyarakat kebanyakan, yang datang dari penjuru Pasundan, ternyata menyambutnya dengan sangat antusias. Sungguh lebih dari perkiraan kami semula. Hal yang sama kembali kami lakukan pada di tahun-tahun berikutnya dengan jenjang 2 tahun sekali.
Demikianlah, atas dorongan dari berbagai pihak, kami bermaksud menyelenggarakan acara serupa dengan upaya peningkatannya. Perasaan kami menyatakan bentuk acara seperti ini akan baik pula bagi pengembangan potensi wisata. Wisata yang bersifat kontemplatif terbilang jarang diselenggarakan. Padahal wisata seperti ini sangat baik bagi kesehatan jiwa raga wisatawan.
2. Nama Pergelaran
Nyiar Lumar, demikianlah acara ini bertajuk. Nyiar adalah mencari. Lumar itulah jamur cahaya. Perjalanan mencari jamur cahaya, demikianlah arti tersuratnya. Arti tersiratnya tiada lain adalah perjalanan kontemplatif, kembali mendekatkan diri dengan alam, merenungi akar-akar kehidupan, mencari jatining diri agar yakin melangkah kemasa depan.
3. Tempat Pergelaran
Kegiatan berpusat di situs Surawisesa (Astana Gede) Kawali. Tempat ini kami anggap yang paling mengusung tema, karena disana banyak peninggalan berupa batu tulis, berisi wangsit karuhun, yang masih tetap bermakna untuk bekal mengarungi kehidupan.
Selain itu, tempat ini kami anggap masih cukup alamiah, dengan sawah dan ladangnya, hutan dan sungai-sungainya, yang nantinya akan kami jadikan lahan untuk menggelar berbagai mata acara dalam rangkaian yang padu.
4. Waktu Pergelaran
Nyiar Lumar 2018 dijadwalkan terselenggara pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2018. semalam suntuk. Dari senja sambil menikmati lembayung, bersama melewatkan malam berbulan (ngabungbang), hingga kalbu bersatu menyambut fajar.
5. Materi Kegiatan
- Berbagai Seni Tradisional Sunda, seperti Genjring Ronyok, Tarawangsa, Bangreng, Ronggeng Gunung, Rampak Kendang, Gending Kreasi, Tutunggulan, Tari Topeng Cirebonan, Karinding, Tembang Cianjuran, dsb. Berbagai seni Kontemporer seperti Teater, Baca Puisi Sunda, Baca Fiksimini Sunda, Sudong, dsb.
- Tampilan kesenian dari Provinsi Bali, dan Kota Banjarmasin.
- Tampilan berbagai seni Helaran, yaitu Bebegig Sukamantri, Wayang Landung Panjalu, Buta Kararas Panjalu, Mengmleng Kawali, Jujungkungan, Rengkong Rancah, Kuda Bajir Panjalu, Wayang Kila Lakbok, Tari Kupat Panawangan, Singa Lugay Sukadana, Pontrangan Cimaragas, Ebeg Banjarsari, Abid Banjarsari, Badeng Batok Panumbangan.
6. Rangkaian Pergelaran
A. Ngawalan:
- Selepas Asar para tamu diharap telah hadir di lingkungan Pendopo Kecamatan Kawali yang bentuk bangunannya masih menyiratkan keanggunan masa bihari, dari sana, sambil menikmati hidangan (lalawuh), akan terhidang suasana yang serba khas sebuah kota mungil, Kawali. Selepas menikmati lalawuh, para tamu dapat menikmati berbagai atraksi seni helaran khas Ciamis.
- Selepas sembahyang Isya di Mesjid Agung Kawali, para tamu diharap telah berganti pakaian. Mengenakan pakaian yang bukan pakaian keseharian. Para tamu mengikuti acara pelepasan oleh panitia.
B. Lalampahan:
- Para tamu berjalan kaki dari Pendopo Kecamatan menuju situs Surawisesa (Astana Gede) Kawali, bersama Gulang-Gulang pembawa obor. Sepanjang perjalanan, para tamu akan disuguhi pemandangan alam dimalam bulan purnama, suasana perkampungan, bentangan sawah dengan bunyi-bunyi seraganya, aliran sungai dengan germercik airnya.
C. Magelaran:
- Dipintu gerbang situs Astana Gede, para tamu akan disambut musik khas genjring ronyok dan Tutunggulan khas Goropak selanjutnya para tamu dipersilahkan istirahat. Menyaksikan rajah dari Ki Juru Pantun. Tari-tari Sunda klasik, komposisi tari dan pergelaran Dramatisasi Puisi. Para tamu dipersilahkan masuk ke situs Astana Gede. Berjiarah. Menyaksikan pergelaran tembang Sunda.
- Para tamu bergerak ke alun-alun Surawisesa, antara situs Astana Gede dan Mata Air Keramat Cikawali. Dilapangan tersebut para tamu disuguhi Rampak Kendang, Bangreng, Karinding, dsb. Selepas itu para tamu melanjutkan perjalanan ke Mata Air Cikawali.
- Puncak acara di gelar di Cikawali, Pergelaran dari utusan Provinsi Bali dan Koata Banjarmasin, pembacaan puisi Sunda dan Baca Fiksimini Sunda dilaksanakan di Kolam Cikawali, pergelaran teater Wastu Kawali, pergelaran seni Tarawangsa dan Ronggeng Gunung di gelar ampi teater Pasanggrahan Cikawali. Diakhiri dengan menari bersama. Selanjutnya, para tamu dipersilahkan memancing di lubuk Sungai Cibulan. Untuk tamu yang ingin beristirahat panitia menyediakan tenda-tenda di sekitar Cikawali
7. Pembiayaan
Kami sungguh sangat mengharapkan bantuan semua pihak, baik moril dan terutama materil, untuk tergelarnya acara tersebut di atas. Insya Allah, acara ini menjanjikan tempat terhormat bagi mereka yang sudi mengulurkan tangan dengan segenap harapan, kami lampirkan rincian pembiayaan, dan susunan panitia.
8. Penutup
Demikianlah seluruh gagasan kami, yang tentunya tiada mungkin terlaksana tanpa bantuan segenap pihak. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya dibuana, begitulah wangsit Sang Wastukencana yang terpahat pada Prasasti Kawali I. Insya Allah, kita sedang melangkah kearah sana.

Post a Comment